Industri Keramik Tergilas Produk China Di Negeri Sendiri

Posted on

JAKARTA, transpagi — Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) melihat kondisi pasar keramik Indonesia saat ini secara umum belum ada peningkatan berarti dan masih menurun. Meski ada kemungkinan permintaan dalam negeri naik, namun telah banyak diisi oleh produk impor asal China.

“Kami berharap permintaannya kebutuhan keramik ini tumbuh, seperti bisnis properti yang terus tumbuh. Namun di tengah naiknya permintaan ada kesulitan bagi pelaku domestik untuk dapat mengambil porsinya,” ujar Ketua Asaki Elisa Sinaga.

Menurut Elisa, Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) merugikan industri keramik lokal. Kalau dulu saat agreement belum dilaksanakan, bea masuk keramik China ke Indonesia bisa sampai 20%. “Saat itu saja dengan bea impor yang mencapai 20%, impor keramik dari negeri tirai bambu naik antara 20%-26% tiap tahun, bagaimana dengan sekarang yang bea masuknya jadi 5%,” ujarnya.

Sehingga, sangat dimungkinkan pasca bea masuk turun akan berdampak impor makin membanjiri pasar lokal, “Sedangkan kenaikan demand dalam negeri tidak mampu diambil oleh lokal tapi diambil alih oleh impor,” ujarnya.

Dengan mulai bergairah sektor properti, Asaki berharap tidak terlalu muluk bisnis keramik bisa tumbuh 10% saja di 2018 ini. “Kebutuhan sekarang kemungkinan ada sekitar 360 juta-370 juta meter persegi (m2),” ujar Elisa.

Sementara sebagian besar bahan baku dalam negeri didapat dari negeri China yang saat ini kena bea dumping hampir 26%. Hal itu menjadikan biaya produksi keramik di lokal menjadi tinggi. “Produsen tertekan dengan biaya produksi plus harga gas masih belum bersahabat untuk industri lokal. Di samping itu pasar lokal terus tergerus produk keramik jadi China,” ujar Elisa. (K-2)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *